Select Language  
Book's Detail
Genesa dan Potensi Emas dan Logam Dasar di Sayap Barat Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera Barat

Indonesia yang terdiri dari kurang lebih 13.000 pulau sebagian memiliki busur volkanikplutonik (Sillitoe, 1994). Panjang total busur mencapai 9.000 Km, dan 80% segmennya diketahui mengandung endapan - endapan mineral (Carlile dan Mitchell, 1994). Endapan mineral tersebut tersebar mulai dari sepanjang bagian barat pulau Sumatera, menerus ke selatan Jawa, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Endapan mineral di Halmahera dan Irian Jaya. Halmahera dan Irian Jaya kemungkinan termasuk bagian dari gugusan endapan mineral tepian Lautan Pasifik, sedangkan Endapan mineral di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Kalimantan adalah lebih terkait dengan interaksi konvergen lempeng sepanjang tepian timurlaut lempeng India-Australia (Hamilton, 1979). Penelitian ini akan menitik beratkan kepada penelitian endapan logam hidrotermal. Walaupun secara rinci endapan hidrotermal ini dapat dibedakan menjadi beberapa tipe yang diantaranya adalah tipe tembaga porfiri, tipe epitermal dan sebagainya. Tipe-tipe endapan logam tersebut merupakan hasil kegiatan magmatik yang diendapkan melalui larutan hidrotermal pada tahapan akhir suatu fraksinasi magma di suatu zona penunjaman. Oleh karena itu dapat dimengerti bahwa endapan emas dan tembaga di Indonesia dapat ditemukan berasosiasi dengan zona penunjaman yang saat ini sedang aktif maupun yang purba. Endapan logam tipe tembaga porfiri seperti yang ditemukan di Ertsberg di Irian Jaya (PT. Freeport Indonesia), Tombulilato di Sulawesi Utara (BHP Minerals), Endapan Batu Hijau di Sumbawa (PT. Newmont). Sedangkan endapan logam (emas) tipe epitermal seperti yang ditemukan di Lebong Donok (Sumatera), Gunung Pongkor (Jawa Barat), Kelian (Kalimantan Timur). Emas dan logam dasar merupakan dua komoditi sumberdaya logam yang mempunyai peran menonjol di sektor pertambangan selain migas dan batubara. Kedua logam tersebut mempunyai harga jual yang relatif stabil di pasaran dunia dibanding timah dan nikel. Logam mulia dan logam dasar mempunyai lingkungan yang sama baik geologi maupun tektoniknya terutama dalam suatu endapan tipe tembaga porfiri. Penelitian kali ini memilih tentang Genesa dan Potensi Emas dan Logam Dasar di Kawasan Sayap Barat Pegunungan Bukit Barisan Sumatera, khususnya di daerah Pasaman dan Sekitarnya. Alasan atau yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah : 1. Daerah ini secara geologi (DMR/IES, 1980, Yaya, 1991), terdapat batuan magmatik yang berupa batuan volkanik berumur Tersier dan batuan intrusif yang bersifat asam - intermediate (menengah), yang sangat memungkinkan dapat menyebabkan terbentuknya cebakan emas dan logam dasar. 2. Daerah penelitian terletak di zona-zona struktur, yang dapat memicu mobilitas dari magma yang menerobos dan keluar ke permukaan dengan membawa unsur-unsur logam mulia dan logam dasar. 3. Untuk mengetahui potensi endapan logam, yang dikatakan dapat berasosiasi dengan zona penunjaman. 4. Mengetahui tipe endapan emas atau logam dasar yang terbentuk, yang sementara dilaporkan oleh sejumlah peneliti terdahulu sebagai cebakan emas epitermal (epythermal gold). 5. Secara ilmiah dapat menambah publikasi/ wawasan tentang terbentuknya cebakan logam di kawasan sayap Barat Pegunungan Bukit Barisan. 6. Mencari cebakan-cebakan baru endapan logam (logam mulia dan logam dasar). 7. Logam mulia dan logam dasar mempunyai nilai jual yang relatif tabil, sehingga diharapkan dapat bermuara dalam meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat.

Statement of Responsibility
Author(s) Zulkarnain, Iskandar - Personal Name
Trisuksmono, Djoko - Personal Name
Kuswandi - Personal Name
Indarto, Sri - Personal Name
Sudarsono - Personal Name
Edition
Call Number U003-1
ISBN/ISSN
Subject(s)
Classification U003-1
Series Title Inventarisasi Sumberdaya Alam
GMD Laporan_Penelitian
Language Indonesia
Publisher Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI
Publishing Year 2003
Publishing Place Bandung
Collation
Specific Detail Info
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...